Sabtu, 17 Januari 2009

Massa Punya Psikologi sendiri

KETIKA banyak parpol yang mengerahkan massa ke KPU dan dengan beringas menduduki kantor KPU, karena tidak lulus kualifikasi, banyak yang mencemaskan keamanan Pemilu 2004. Apalagi saat banyak caleg yang ikut-ikutan membawa massa berunjuk rasa ke kantor DPW atau DPP masingmasing gara-gara nomor urutnya digusur dari nomor jadi ke nomor tidak jadi. Langsung para pakar meramalkan, Pemilu 2004 akan berdarah-darah.
Baru Parpol dan caleg gurem saja sudah begitu beringas, bagaimana bila yang nanti kecewa adalah parpol-parpol besar? Bukankah pasti akan terjadi tawuran, begitu massa dari satu parpol berpapasan dengan massa parpol lain? Itu sudah benar-benar terjadi pada masa prakampanye di Bali. Apakah tidak ngeri?
Di sisi lain, sejak dulu saya tidak yakin pemilu akan berdarah-darah. Beberapa korban pasti akan jatuh, misalnya karena kecelakaan lalu lintas akibat kecerobohan anggota massa sendiri (terjatuh dari truk, tergilas roda kendaraan, dan sebagainya), atau tawuran antarkampung yang masyarakatnya sudah musuh bebuyutan sejak dulu, tetapi kali ini mendapat identitas parpol berbeda. Itu wajar dan sulit dihindari dari fenomena massal yang begitu kolosal seperti Pemilu 2004.
Namun nyatanya, sampai tulisan ini dibuat, belum ada konflik yang signifikan, apalagi sampai mengambil korban nyawa. Di berbagai tempat, arak-arakan berbagai parpol bisa berpapasan. Masing-masing dengan gaya yang sama (motor dibuka knalpotnya, kepala botak atau dicukur dengan nomor parpol jagoannya, muka dicoreng-coreng, dan sebagainya), hanya kaos dan bendera yang berbeda.
Pada tahun 1999 dan sebelumnya, dua kelompok massa yang berhadapan pasti akan langsung bertempur. Tetapi kini, paling hanya saling memberi salam, melambaikan tangan, dan melempar senyum. Bahkan yang saya lihat sendiri di Jakarta, beberapa sepeda motor berbendera Partai Demokrat "terjebak" arus rombongan besar PDI-P yang serba merah dan tidak terjadi apa-apa. Bahkan "oknum-oknum" Partai Demokrat itu dengan santai mengikuti arus merahnya PDI-P, sambil sesekali ngobrol dengan peserta arak-arakan dari PDI-P yang kebetulan di sebelahnya. Jadi, saya yang kebetulan sedang ada dalam bus way seakan melihat lautan merah dengan riak-riak biru muda di sana-sini.
Mengapa tidak rusuh?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jelas, karena justru kampanye damailah yang terjadi, bukan rusuh seperti banyak diperkirakan para pakar sebelumnya.
Beberapa jawaban yang sering dilontarkan terhadap pertanyaan ini antara lain rakyat sudah jenuh dengan kekerasan, rakyat sudah tambah pandai dan mengerti, dan rakyat sudah bosan dibohongi partai dan politisi busuk.
Jawaban-jawaban itu tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena, rusuh massa akhir-akhir ini melanda hampir semua bagian dunia, termasuk negara maju yang rakyatnya sudah lebih terdidik
Dalam Psikologi Sosial, ada teori yang menyatakan, massa itu bersifat irasional, emosional, impulsif, agresif, dan destruktif. Dengan kata lain, menurut teori yang antara lain dikemukakan G Le Bon ini, suatu massa yang "jinak" (seperti pengunjung pasar, atau penonton bioskop) bisa tiba-tiba beringas jika ada pemicu. Inilah mungkin yang menyebabkan para pakar tergoda menilai pemilu sebagai pemicu yang potensial.
Meski demikian, ada satu hal yang sering luput dari pengamatan para pengamat, yaitu tidak setiap hal (termasuk pemilu) bisa memicu kerusuhan. Menurut teori perilaku massa dari N Smester, misalnya, pemicu hanya salah satu faktor, sekaligus faktor terakhir dari seluruhan enam faktor yang menjadi prasyarat untuk terjadinya perilaku massa.
Kelima faktor lain di luar faktor pemicu itu adalah (1) tekanan sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, biaya hidup, dan pendidikan yang mahal; (2) situasi yang kondusif untuk beraksi massa, seperti pelanggaran tidak dihukum dan diliput media massa; (3) adanya kepercayaan publik, dengan aksi massa situasi bisa diubah; (4) peluang (sarana dan prasarana) untuk memobilisasi massa; dan (5) kontrol aparat yang lemah.
Dari kelima faktor itu, yang paling tidak terpenuhi adalah faktor keyakinan publik. Benar, aksi-aksi mahasiswa dan pemuda membawa beberapa perubahan politik yang amat signifikan di tahun 1908, 1928, 1945, dan 1966. Tetapi kenyataan membuktikan, sejak 1998, aksi-aksi mahasiswa hanya bisa menjatuhkan tiga presiden berturut-turut dalam waktu dua-tiga tahun, tanpa memberi perubahan bermakna pada peningkatan taraf kehidupan rakyat sendiri. Kurs dollar naik, inflasi makin parah, bunga bank melambung, pengangguran makin banyak, dan sebagainya. Malah perbaikan justru mulai tampak pada zaman Presiden Megawati yang relatif stabil.
Maka, massa pun tidak percaya lagi aksi massa akan membawa perubahan. Dengan demikian, kampanye pemilu tidak bisa memicu kericuhan.
Pemilu 2004 berbeda
Hal lain yang kurang dicermati pengamat adalah Pemilu 2004 berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Perbedaannya bukan hanya dalam pemilihan anggota DPD dan pemilihan presiden langsung, tetapi keseluruhan proses pelaksanaan yang tidak lagi dijalankan pemerintah dan aparat keamanan saja, tetapi oleh pihak-pihak independen nonpemerintah, khususnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwas).
Dengan adanya anggota-anggota KPU dan Panwas, dari pusat sampai daerah yang independen dan di-fit and proper: DPR/DPRD sendiri, maka tidak ada yang bisa dijadikan sasaran kemarahan massa jika terjadi sesuatu. Kedaulatan rakyat sudah diberi kesempatan untuk melaksanakan sepenuhnya, dan jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan, rakyat sendirilah yang salah, bukan orang lain. Apalagi pemerintahnya (dari presiden sampai menteri-menteri) hampir seluruhnya adalah orang-orang partai belaka.
Kesadaran yang begitu tinggi, tak akan mungkin terjadi tanpa ada keterbukaan pers yang sudah terlaksana sejak era reformasi. Meski kadang pers kebablasan, kebebasan pers yang sudah dipraktikkan mau tidak mau telah memberi informasi amat banyak, dan lengkap kepada masyarakat. Hal yang tidak pernah terjadi di era serba sensor semasa Orde Baru.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ramalan-ramalan tentang rusuh massa yang bakal terjadi dalam Pemilu 2004, lebih didasarkan paradigma lama, khususnya pada prakiraan-prakiraan yang dikembangkan dari pemikiran dan perasaan sendiri. Padahal, massa mempunyai pemikiran dan perasaan berbeda. Dengan kata lain, massa punya psikologi sendiri.
Sarlito Wirawan Sarwono Guru Besar Psikologi UISumber: Kompas Cyber Media

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa Comment nya!